Predator Pemangsa Anak

0
34

Pelaku pedofilia sesama jenis terus mengawasi korbannya. Mereka sang predator prostitusi anak-anak bawah umur, memiliki komunitas tersendiri. Tak hanya lokal, tapi juga sudah mendunia.

Satu bukti terbaru, 14 Maret 2017,  Polda Metro Jaya mengungkap praktik prostitusi pedofilia secara online melalui media sosial (facebook). Akunnya diketahui bernama “Official Loly Candy’s Group 18+”. Empat pelaku kejahatan pornografi anak secara online itu diamankan.

Akun grup itu dibuat September 2014 dengan jumlah anggota mencapai 7.497 orang. Anggota akun yang menampilkan foto porno anak di bawah umur itu, selain dari Indonesia, juga sejumlah Negara.

Member yang terkoneksi atau nyambung dengan member-member internasional, di mana ada member dari Amerika Latin (Peru, Argentina, Meksiko, Cili, Kolombia, dan lainnya).

Untuk menjadi anggota, tidaklah mudah. Ada syarat-syarat menjadi member yang harus diikuti. Pertama tidak boleh pasif. Artinya, member harus mengirimkan gambar-gambar di saat melakukan kejahatan seksual dengan anak kecil ‘pedofil’  kepada member lainnya. Kemudian posting video atau gambar porno yang anaknya belum pernah di-upload. Dalam setiap hari, postingan harus beda. Jika tak bisa dilakukan, akan dikeluarkan dari grup.

Para anggota grup facebook itu juga berdiskusi, berbagi dan menampilkan foto maupun video berkonten pornografi dengan obyek anak berusia 2-10 tahun.

Uniknya, sesama anggota tidak saling mengenal namun memiliki kelainan yang sama, sehingga mengelola akun facebook itu secara bersama-sama.

Penyidik Polda Metro Jaya berusaha menelusuri anggota-anggota prostitusi pedofilia online itu, bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI).

Polisi juga akan bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, guna membongkar kasus ini serta melakukan konseling bagi korban.

Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah paraphilia, di mana seseorang memiliki hubungan kuat, dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber.

Meskipun gangguan ini (pedofilia) sebagian besar didokumentasikan pada pria, ada juga wanita yang menunjukkan gangguan tersebut, dan peneliti berasumsi perkiraan yang ada lebih rendah dari jumlah sebenarnya pada pedofil perempuan.

Tidak ada obat untuk pedofilia yang telah dikembangkan. Namun, terapi tertentu yang dapat mengurangi kejadian seseorang untuk melakukan pelecehan seksual terhadap anak.

Di Amerika Serikat, menurut Kansas v. Hendricks, pelanggar seks yang didiagnosis dengan gangguan mental tertentu, terutama pedofilia, bisa dikenakan pada komitmen sipil yang tidak terbatas, di bawah undang-undang berbagai negara bagian (umumnya disebut hukum SVP dan Undang-Undang Perlindungan dan Keselamatan Anak Adam Walsh) pada tahun 2006.

Dalam penggunaan populer, pedofilia berarti kepentingan seksual pada anak-anak atau tindakan pelecehan seksual terhadap anak, sering disebut “kelakuan pedofilia.”

Misalnya, The American Heritage Stedman’s Medical Dictionary menyatakan, “Pedofilia adalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak atau anak-anak.”

Pedofilia pertama kali secara resmi diakui dan disebut pada akhir abad ke-19. Sebuah jumlah yang signifikan di daerah penelitian telah terjadi sejak tahun 1980-an. Penyebab pasti dari pedofilia belum ditetapkan secara meyakinkan. Penelitian menunjukkan bahwa pedofilia mungkin berkorelasi dengan beberapa kelainan neurologis yang berbeda, dan sering bersamaan dengan adanya gangguan kepribadian lainnya dan patologi psikologis. Dalam konteks psikologi forensik dan penegakan hukum, berbagai tipologi telah disarankan untuk mengkategorikan pedofil menurut perilaku dan motivasinya.

Siapapun pelakunya, para pelaku pedofilia lewat media social dijerat dengan Pasal 27 ayat 1 Juncto Pasal 45 ayat 1 UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 4 ayat 1 Juncto Pasal 29 dan atau Pasal 4 ayat 2 Juncto Pasal 30 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Namun, sebelum muncul kejadian serupa, patut diantisipasi. Keluarga lebih waspada mengiringi perubahan perilaku anak remaja, terutama laki-laki. Waspada, karena pedofilia sesama jenis, merupakan penyakit psikologis menular. Awalnya menjadi korban, selanjutnya bisa menjadi pelaku aktif mencari korban. (*)

Penulis: wetly, wartawan InfoBaru

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here