Hoax

0
32

Genderang perang ditabuh, perang besar diumumkan. Semua pasukan, semua kekuatan dikerahkan. Beberapa waktu yang lalu perang besar seperti ini pernah dikumandangkan. Lawan yang dihadapi terlihatjelas, seperti misalnya perang melawan terorisme, perang melawan ekstremisme agama, atau bahkan perang melawan narkoba. Tapi, kali ini agak beda. Perang besar ini menghadapi lawan yang tidak kelihatan; perang melawan hoax.

Apa itu hoax? Tak gampang mendefinisikannya. Tetapi begitu mudah mengucapkannya. Tiba-tiba saja kata itu menjadi kosa kata yang paling populer dalam khazanah pergaulan kita sehari-hari. Apa pun yang dianggap tidak benar langsung dilabeli ‘’hoax’’. Tapi, kata ini selalu mempunyai dua sisi yang bertentangan. Pada satu sisi ia disebut hoax atau—katakanlah—kebohongan. Tapi, dari sisi lain ia disebut sebagai ‘’fact’’ fakta, atau yang lebih gampang diterjemahkan sebagai ‘’kebenaran’’. Bahkan, kalau hoax itu jelas-jelas kebohongan, tetap saja disebut sebagai ‘’kebohongan yang benar’’ demi tujuan perjuangan.

 

Hoax merebak seiring dengan dengan makin merebaknya media sosial. Inilah revolusi teknologi yang paling besar dalam sejarah peradaban umat manusia modern dua ribu tahun terakhir. Merujuk pada ekologi media McLuhan, era tekonologi informasi sekarang ini merupakan ‘’epoch’’ termaju dalam peradaban manusia. Pada awalnya, epoch manusia adalah bertutur dan mendengar, bahasa tutur atau bahasa lisan. Pada epoch selanjutnya ditemukan mesin cetak oleh Gutenberg di abad pertengahan. Awalnya hanya dipakai untuk mencetak Injil, tapi kemudian teknologi cetak berkembang dengan mencetak buku-buku ilmu pengetahuan. Revolusi baru terjadi. Kalau sebelulmnya kebenaran Injil hanya dimonopoli oleh elite agama saja, sekarang bisa diakses oleh siapa saja. Gereja bukan lagi otoritas yang tidak tersentuh. Teknologi cetak telah menularkan virus kebebasan dan demokrasi ke seluruh dunia. Pada epoch ini lahirlah media cetak, surat kabar, sebagai penyebar gagasan-gagasan kebebasan dan demokrasi ke seluruh dunia.

 

Selanjutnya muncullah teknologi radio yang merevolusi industri media. Pada epoch cetak, berita harus menunggu beberapa hari atau bahkan bulan untuk bisa diketahui secara luas. Dengan ditemukannya radio berita menyebar lebih cepat pada saat yang bersamaan. Revolusi baru telah muncul dan menimbulkan tanda tanya apakah era suratkabar cetak akan berakhir dengan munculnya radio, yang kemudian disusul dengan televisi yang bergambar. Ternyata tidak. Sampai sekarang kedua jenis media itu masih bisa saling menjadi komplemen dalam konvergensi.

 

McLuhan menyebut epoch internet sebagai bagian dari epoch elektronika radio dan televisi. Internet merevolusi dunia dengan menjadikan dunia sebagai sebuah desa buana ‘’global village’’. Istilah ini ditemukan McLuhan untuk menggambarkan bahwa internet telah mengubah jagat buana ini menjadi desa kecil dimana orang bisa saling mengetahui keadaan masing-masing setiap saat, dan mereka bisa saling bicara secara akrab mengenai hal-hal yang bersifat pribadi maupun bukan pribadi. Dengan teknologi internet peradaban kita seolah mundur menjadi peradaban desa yang setiap orang saling kenal dan tukar kabar berita setiap saat. Sebagaimana epoch sebelumnya, internet ini dikhawatirkan akan menjadi paku penutup peti mati bagi media konvensional surat kabar, radio, dan televisi. Tetapi, melihat perkembangan dari epoch satu ke epoch selanjutnya, media-media baru itu lebih menjadi saling memberi komplemen daripada saling membunuh. Mereka bersinergi membentuk kovergensi media.

 

Internet melahirkan revolusi bermedia. Munculnya media sosial membuktikan tesis McLuhan bahwa kita sekarang menjadi penduduk desa. Pekerjaan kita sejak bangun tidur sampai mapan tidur lagi adalah memegang gajet untuk saling ngerumpi, ngobrol, rasan-rasan, ngegosip, sampai tidak terasa menjurus ke fitnah. Posisi media sosial yang praktis dan gampang dioperasikan ini mengambil alih peran media konvensional yang sebelumnya mendominasi penyebaran berita. Kalau dulu media konvensional harus mengumpulkan berita dan kemudian memprosesnya untuk disebarkan kepada konsumen, sekarang hal itu tidak perlu lagi. Dulu, pada zaman media konvensional, pengelola media adalah produsen berita dan pembaca berita adalah konsumen media. Sekarang,  kedua peran itu menyatu menjadi satu. Tidak ada produsen dan konsumen. Yang ada adalah ‘’prosumer’’ produser sekaligus konsumer, dan konsumer yang bersamaan dengan itu juga menjadi produser.

 

Kalau Anda mendapatkan kabar dari seorang teman, maka Anda akan selalu ingin menjadi yang pertama untuk menyebarkannya kepada orang lain. Itulah fitrah media sosial; Anda selalu ingin menjadi yang pertama dalam menyebarkan berita. Tidak peduli berita itu benar atau tidak, yang penting Anda menjadi yang tercepat dalam menyebarkannya. Tetapi kemudian, uniknya, begitu berita yang salah itu menyebar, para prosumer akan mengoreksinya sendiri. Berbagai sumber prosumer akan mengoreksi dan mengonfirmasi. Jadinya, penyebar berita tidak perlu melakukan konfirmasi dan verifikasi. Para prosumer medsos akan berlomba-lomba melakukannya. Sebuah eksperimen beberapa kali saya lakukan dengan memposting ‘’berita kecil’’ yang belum terverifikasi. Reaksinya adalah banyak yang langsung percaya, tapi banyak juga yang melakukan recheck. Akhirnya berita itu mendapatkan sanggahan, konfirmasi, atau verifikasi dari sesama pengguna media sosial. Terjadilah kesimbangan semacam ‘’covering both sides’’ atau ‘’covering all sides’’ dalam tradisi jurnalisme konvensional.

 

Berita-berita salah itulah yang sekarang disebut sebagai ‘’hoax’’ yang bisa saja diproduksi karena ketidaksengajaan atau dengan kesengajaan. Apapun motifnya, berita hoax pasti mendapatkan reaksi dari para pengguna medsos, baik yang berupaya melakukan konfirmasi maupun verifikasi, atau yang sekadar memberi komentar. Apapun yang terjadi, proses balancing out atau penyeimbangan bisa terjadi dengan sendirinya.

 

Karena itu, histeria atau ketakutan yang berlebihan terhadap hoax–yang sekarang ini ditunjukkan oleh pemerintah–sebenarnya phobia yang berlebihan. Media sosial memang powerful. Media sosial mengubah wajah demokrasi menjadi lebih terbuka, spontan, dan transparan. Media sosial bisa menjadi alat yang paling efektif untuk mendongkrak popularitas melalui aksi yang dibuat menjadi viral. Tetapi, sebaliknya, media sosial bisa menjadi pedang bermata dua yang bisa membunuh siapa saja dengan cepat dan tepat.

 

Wajah demokrasi Indonesia belakangan ini berubah total dengan maraknya internet dan media sosial. Demokrasi adalah wahana bagi warga negara (citizen) untuk menyuarakan haknya melalui ruang publik. Pada demokrasi konvensional, ruang publik atau public sphere itu sering kali terbatas atau hanya dikuasai oleh elite tertentu untuk kepentingan tertentu. Suratkabar adalah ruang publik, demikian pula radio dan televisi yang seharusnya menjadi ruang publik yang bebas diakses oleh citizen. Tetapi, dalam praktiknya, ruang publik itu sudah terkooptasi oleh kekuasaan dan menjadi korban hegemoni penguasa. Penguasa bukan hanya pemerintah, tetapi termasuk pemasang iklan, kelompok elite politik, dan pemilik media yang tidak membiarkan publik mengakses media menjadi ruang terbuka.

 

Disinilah media sosial menawarkan revolusi. Ruang publik menjadi ruang yang betul-betul terbuka bebas yang bisa diakses siapa saja. Pemerintah tidak bisa lagi memonopoli kebenaran seperti pada era media konvensional. Pemerintah harus bertarung di ruang publik itu untuk mempertahankan kebijakannya yang ditantang atau ditentang para warga negara. Mereka, para citizen, yang mempunyai akses terbatas pada ruang publik, sekarang melalui internet menjelma menjadi kekuatan ‘’netizen’’ yang menguasai akses kepada ruang publik.

Sekarang pemerintah terlihat kewalahan menghadapi era baru demokrasi para netizen itu. Namanya juga ruang publik yang bebas, apa saja bisa masuk ke situ baik yang hoax maupun yang super-hoax. Sebagaimana tradisi mimbar bebas di Hyde Park dimana setiap orang bisa naik ke podium dan berteriak-teriak melakukan orasi, demokrasi netizen sekarang ini juga dimasuki oleh siapa saja yang bisa berteriak-teriak semau-maunya.

 

Pemerintah gerah, dan bahkan (menurut Rocky Gerung) panik. Maka yang dilakukan bukannya membiarkan berita hoax itu mengalami balancing out melalui perdebatan, konfirmasi, maupun verifikasi. Yang dilakukan pemerintah adalah berbagai pemberangusan, berbagai crack down, penutupan situs-situs dan mengkriminalkan mereka yang dianggap menyebar berita bohong.

 

Di antara para penyebar hoax itu ada yang profesional ada pula yang amatir. Yang profesional mencari uang dan kekuasaan dengan cara memanipulasi berita menjadi super-hoax. Itulah yang digambarkan Ryan Holiday dalam bukunya ‘’Trust me I’m Lying; Confession of A Media Manipulator’’ (2012). Sekelompok orang yang memanipulasi berita dan menyebarkannya kepada media dengan tujuan menjadi keuntungan finansial. Baik si manipulator maupun pengelola media sama-sama mendapat untung dari bisnis berita-berita hoax itu.

 

Model semacam itu sekarang dipraktikkan secara luas di Indonesia. Para politisi dan pebisnis, dan selebritas, memanipulasi berita dan menyebarkannya melalui media sosial untuk keuntungan pribadi, menyerang lawan dan mengeruk popularitas dan keuntungan finansial.

Tirani popularitas akan menjadi warna demokrasi digital. Tidak peduli bagaimana kualitas Anda, sepanjang Anda populer maka Anda akan memenangkan kontes politik. Seperti itu pula yang terjadi pada Joko Widodo. Seorang pengkritiknya menyebut; seorang laki-laki kerempeng, bukan siapa-siapa, masuk ke got, lalu ketika keluar menjadi presiden. Itulah berkah media sosial yang menjadikan lelaki kerempeng itu media darling. Sekarang, si lelaki kerempeng itu sedang galau karena tidak lagi menjadi media darling tapi malah dimusuhi media-media non-konvensional.

 

Lawan-lawan politiknya memanfaatkan media sosial untuk mendeskreditkannya, sekaligus memobilisasi massa untuk melawannya. Dalam adagiumdemokrasi, kata harus dilawan dengan kata. Kalau lawan-lawan politiknya, seperti (Habib) Rizieq Shihab, memakai ‘’kata-kata’’ untuk menyerang Jokowi, seharusnya sang presiden juga memakai ‘’kata-kata’’ untuk menangkisnya, bukan memakai kekuasaan untuk memberangusnya. Itulah demokrasi yang sehat.

 

Jokowi besar karena media sosial. Sekarang, dia merasa dikerdilkan oleh media sosial, atau—bisa saja—dia mati karena media sosial. Dalam sebuah adegan di ‘’Ben Hur’’ seorang tokoh berucap: ‘’Live by the sword and you’’ll die by the sword’’; kamu hidup karena pedang, dan kamu akan mati karena pedang. (*)

Penulis: Dhimam Abror Djuraid, wartawan senior

BAGIKAN
Berita sebelumyaDistrust
Berita berikutnyaPredator Pemangsa Anak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here